Kamis, 20 Mei 2010

DBC Network Oriflame Why..??

Sejak enam tahun lalu saya bekerja di salah satu perusahaan fastfood terkemuka di Indonesia. Jadwal saya sangat padat karena mengharuskan saya kerja di kantor hingga larut malam.

Bisa dikatakan saya tidak punya banyak waktu luang selain libur 1 hari setiap minggu.
Itu pun sering saya gunakan untuk beristirahat. Saya merasa terlalu lelah, maka saya memutuskan untuk resign mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi saya merasa tidak puas juga.

Saya memiliki mimpi untuk menjalani hari tua yang bahagia. Oleh karena itu sejak mulai bekerja, saya mulai melirik beberapa peluang usaha, agar di hari tua nanti saya tidak perlu kuatir akan masalah finansial.

Suatu Ketika saya menemukan informasi mengenai Bisnis jaringan DBC Network. Sejak pertama kali, saya langsung tertarik dengan sistem online-nya, yang memungkinkan kita memiliki bisnis sampingan tanpa harus mengganggu kesibukan sehari-hari. Persis seperti yang saya butuhkan saat ini. Dengan tekad bulat, saya bergabung dengan Oriflame melalui jaringan DBC Network.

Hasilnya? LUAR BIASA!

DBC Network betul-betul berbeda! Apa saja bedanya?
  1. Sistemnya memungkinkan saya mengelola bisnis Oriflame online, tanpa mengganggu kesibukan saya di kantor. Saya hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam/hari untuk mengurus bisnis sampingan DBC Network, yang bisa saya jalankan di rumah secara online. Ini baru namanya peluang usaha.
  2. Tersedianya E-book Training yang lengkap, mudah dimengerti, yang berisi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan agar bisa sukses. Kini saya bisa mengerti mengenai sistem bisnis Oriflame secara lengkap, bagaimana cara menjalankannya, dan mendapat solusi untuk mengatasi segala permasalahan yang mungkin timbul.
  3. Mendapat Web Replika Gratis, sehingga memudahkan saya dalam merekrut downline. Selain itu, Auto-Responder-nya dapat memenuhi keingintahuan para calon downline mengenai bisnis Oriflame, yang stand-by 24 jam non-stop, tanpa harus susah cari waktu presentasi, dan tanpa harus memaksa-maksa orang untuk ketemuan.
  4. Para Upline yang penuh perhatian dan selalu siap membantu setiap kali saya mengalami kesulitan. Di DBC Network, upline memiliki tujuan untuk mensukseskan downline-nya. Bimbingan dari para upline inilah, salah satu alasan saya dapat menjadi member Oriflame online. Mereka berusaha untuk menjadikan kita orang2 sukses.
  5. Semua diperkaya lagi dengan training-training offline yang rutin diadakan oleh para Pengurus DBC Network, yang memperkaya ilmu dan menambah motivasi dalam menjalankan bisnis Oriflame. Karena biasanya diadakan di akhir minggu, jadi tidak akan mengganggu hari kerja.
Jadi, bagi Anda para pekerja keras yang ingin mendapat penghasilan tambahan selain gaji dari kantor, DBC Network adalah solusi terbaik Anda. Karena mungkin saja, melalui DBC Network Anda dapat mengajukan "Pensiun Dini" lebih awal, dan menikmati hasil dari kerja keras Anda!
Ayo buruan ambil kesempatan menjadi sukses, apakah Anda berani menerima Kesempatan Emas ini
Kamis, 13 Mei 2010

Alasan Wanita Tidak Mandiri Secara Finansial

Untuk permasalahan finansial, boleh dibilang kaum hawa tidak memiliki kompetensi yang sepadan. Hasil survey Citibank Indonesia dalam Citi Fin-Q (Financial Quotient) 2009 melibatkan responden wanita menunjukkan bahwa separuh wanita Indonesia tidak mempunyai rencana finansial. Sebagian yang telah mempunyai rencana pun belum tentu melaksanakan rencana finansial.

Mengapa wanita Indonesia belum mandiri secara finansial? Berikut 5 alasan utama:

1. Terbuai asmara
Pada umumnya, saat memasuki jenjang pernikahan, wanita mempersilakan pria untuk bertanggung jawab soal keuangan. Banyak wanita yang diajarkan, bahkan bercita-cita untuk bergantung semata pada pasangannya. Kaum pria sering dianggap lebih memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan dan bertahan dalam kondisi sulit (survive) sementara wanita tidak.

Dalam beberapa kebiasaan ataupun tradisi yang dianut di Indonesia, wanita dituntut untuk menurut saja pada suami dengan imbalan proteksi dari segi keuangan. Ketergantungan ini membuat wanita tidak siap jika pasangan mereka kehilangan pekerjaan, mengalami kecelakaan, atau meninggal dunia –sehingga menyebabkan seorang istri harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri.

Untuk itu, agar mampu bertahan hidup di zaman sekarang, wanita semakin dituntut untuk mandiri dan saling mendukung dalam kehidupan berkeluarga.

2. Terlalu muda untuk menabung
Pada saat masih berusia muda, umumnya wanita tidak menaruh prioritas untuk menabung demi masa depan. Wanita lebih mementingkan pengeluaran untuk memperbaiki penampilan dan memperoleh hal-hal yang tidak dimilikinya saat masa kanak-kanak. Kecenderungan ini pada akhirnya menjurus pada kebiasaan belanja kompulsif. Dengan berjalannya waktu, jumlah pengeluaran semakin meningkat dan semakin sulit untuk menciptakan kebiasaan menabung.

Hal yang terbaik untuk mengajarkan nilai uang pada generasi muda adalah dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk mulai bekerja selepas usia remaja, dan membiasakan mengelola keuangan pribadi.

3. Tergoda belanja dan terlilit utang
Iklan dan promosi untuk kecantikan, fashion, dan kebutuhan rumah tangga, semakin meningkatkan selera belanja wanita. Hal ini membuat para wanita merasa bahwa mereka memiliki kendali terhadap pengeluaran, tetapi sayangnya belanja kompulsif ini semakin menggali utang lebih dalam.

4. Terintimidasi sukses
Walaupun tingkat penghasilan wanita cenderung lebih rendah daripada pria, kaum wanita terus memperjuangkannya di dunia kerja. Namun kesuksesan di dunia kerja dapat membawa keretakan pada hubungan rumah tangga. Wanita yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangan, tangkas menangani pengeluaran, dan mengendalikan uang rumah tangga, sering dianggap agresif dan tidak feminin baik di mata laki-laki maupun sesama wanita. Untuk menjaga hubungan rumah tangga, sejumlah wanita merelakan hak finansialnya demi keutuhan keluarga.

5. Terdorong untuk membantu orang lain
Wanita selalu mengutamakan suami, anak, orangtua, anggota keluarga, bahkan orang-orang yang tidak mampu. Membantu orang lain memberikan rasa bermanfaat dan rasa senang karena telah berbuat baik pada orang lain. Terkadang wanita melupakan dirinya sendiri, sehingga pengeluaran untuk orang lain terus berjalan, dan hal ini sangat berbahaya jika ia dan keluarga terlilit utang.

Untuk melanjutkan semangat Kartini guna menciptakan kemandirian wanita Indonesia, maka seyogyanya wanita memperhatikan pengelolaan keuangan. Perlu dilakukan skala prioritas dalam mengatur pengeluaran sehari-hari, sehingga sebisa mungkin mementingkan fungsi daripada sekadar gengsi. Wanita perlu menanam kebiasaan menabung dan berinvestasi, menyiapkan dana darurat dan hidup seimbang dengan mementingkan kebutuhan pribadi dan keluarga.

Kemandirian finansial bukan sebatas tidak bergantung pada pasangan, tetapi juga memahami bahwa wanita dapat mengelola finansial secara mandiri. Raih Mandiri Finansial di DBC Network

Sumber: Citibank Indonesia
Selasa, 04 Mei 2010

Anti Network Marketing?????

Anti Network Marketing?????Pasti deh ada yang berkerut kening, trus ada yang langsung jawab “Ya itu saya” Untuk “PNS’ alias Pecinta Network marketing Sejati pasti langsung protes NO No jangan negative dulu dong. Namun demikian, walaupun banyak orang sudah tahu bahwa bisnis seperti itu bagus, masih saja ada mitos-mitos hal yang menghambat mereka untuk menekuninya. Di bawah ini saya akan menjelaskan beberapa di antaranya, dan bagaimana tanggapan saya terhadap keberatan-keberatan tersebut yang dikutip dari Safir Senduk Pakar Perencana Keuangan terkemuka di Indonesia :

1. Banyak orang yang tidak berhasil dalam bisnis ini

Betul. Banyak orang yang gagal dalam menjalankan bisnis ini, tapi hal ini juga terjadi pada berbagai bidang bisnis lain. Buktinya, banyak juga kok orang yang berhasil menjalankan bisnis jaringan pemasaran. Masuknya Anda dalam bisnis jaringan pemasaran bukan berarti bahwa itu merupakan jaminan keberhasilan. Anda hanya bisa berhasil dalam bisnis seperti ini kalau Anda bekerja. Masalahnya, banyak orang yang masuk ke bisnis ini mengharapkan bahwa mereka bisa berhasil tanpa perlu bekerja. Itu jelas mustahil.
Jadi, ketidakberhasilan juga terdapat di bisnis apa pun. Kalau Anda mau melihat apakah ada orang yang sudah berhasil dalam menjalankan bisnis jaringan pemasaran, ada banyak pertemuan atau acara-acara yang diadakan oleh para kelompok distributor yang sudah berhasil yang bisa Anda hadiri. Di sana Anda bisa melihat contoh dari orang-orang yang sudah berhasil.

2. Bisnisnya bagus, tapi bukan untuk orang seperti saya
Itu namanya gengsi. Biasanya ada dua macam hal yang menyebabkan orang merasa gengsi dalam melihat peluang bisnis jaringan pemasaran. Gengsi yang pertama adalah karena bisnis jaringan pemasaran melibatkan penjualan secara langsung (direct selling), sehingga banyak orang merasa gengsi dalam menjual. Menjual dianggap tidak lebih bergengsi dibanding membeli, karena bagi sebagian orang, kegiatan menjual menunjukkan bahwa Anda tidak punya uang, sedangkan kegiatan membeli dianggap jauh lebih bergengsi karena membeli menunjukkan bahwa Anda punya uang.
Boleh-boleh saja kalau seseorang merasa gengsi melakukan kegiatan menjual dan lebih suka membeli saja. Tapi apa yang terjadi kalau Anda terus menerus membeli? Lama-lama uang Anda habis kan? Jadi, seseorang harus menjual untuk bisa mendapatkan sesuatu agar kelak dia bisa terus hidup dan membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
Perlu diingat, semua orang hidup dari menjual sesuatu. Seorang dokter menjual jasa kedokteran kepada pasiennya.
Seorang karyawan menjual keahliannya kepada perusahaan tempat dia bekerja. Malah pernah ada pepatah yang mengatakan bahwa
pada prinsipnya hanya ada dua profesi di dunia ini, yaitu penjual dan pembeli.
Penjual menjual sesuatu dan mendapatkan kompensasi berupa uang, sedangkan pembeli mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu. Anda pilih yang mana?

3. Saya sibuk dan tidak punya waktu
Kalau Anda datang ke acara-acara yang diadakan oleh para distributor dari
perusahaan jaringan pemasaran, Anda bisa melihat bahwa kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang juga bekerja di tempat lain dan sangat sibuk. Beberapa di antara mereka malah memiliki jabatan yang cukup baik di perusahaan tempat mereka bekerja. Ada yang manajer, ada yang direktur, ada profesional, dan banyak lagi. Kebanyakan di antara mereka memang menjalankan bisnis ini secara part time atau sambilan, tetapi dengan kadar keseriusan yang sama seperti kalau mereka bekerja di kantor mereka.
Saya seringi melihat bahwa orang yang mengatakan bahwa mereka sibuk, sebetulnya mereka bukannya sibuk, tapi tidak bisa mengatur waktu dengan baik dan tidak melakukan prioritas kegiatan secara benar. Kalau Anda menganggap bisnis jaringan pemasaran adalah bisnis yang bagus, bahkan bisa memberikan semacam royalti kepada anak cucu Anda, maka Anda pasti akan memprioritaskan waktu Anda untuk bisa menjalankannya, walaupun dengan waktu yang sedikit tiap harinya.
Jadi, tidak ada orang yang terlalu sibuk untuk tidak menjalankan bisnis ini. Yang ada adalah orang yang tidak bisa memprioritaskan waktu kerjanya dengan baik.

4. Ini bisnis piramid, yang masuk duluan pasti penghasilannya lebih besar
daripada yang masuk belakangan.

Berdasarkan pengamatan saya, ini bukan bisnis piramid. Kalau Anda masuk di tahun 2010 misalnya, Anda punya kemungkinan berhasil yang sama besar kalau Anda masuk sekarang. Banyak orang menjalankan bisnis ini baru dua tahun lalu sudah bisa berhasil dan mendapatkan penghasilan yang cukup besar, padahal banyak yang belum berhasil walaupun sudah masuk lebih dulu. Jadi, ini bukan bisnis piramid. Mau lihat buktinya? Datang ke acara-acaranya.

5. Saya tidak berbakat menjual dan karena itu tidak bisa menjual
Seperti yang pernah saya tuliskan dalam nomor-nomor yang lalu, Anda tidak perlu punya bakat dan keahlian dalam menjual untuk bisa menjalankan bisnis jaringan pemasaran. Ini karena dalam bisnis jaringan pemasaran, Anda tidak disarankan untuk fokus kepada kegiatan menjual, tetapi lebih kepada menjual sedikit, dan membangun jaringan orang-orang yang juga menjual sedikit.

Sistem yang sudah berhasil bahkan menyarankan agar Anda melakukan presentasi bisnis kepada orang-orang yang sudah Anda kenal, dan dari situ, bila mereka tertarik, mereka akan bergabung dibawah pensponsoran Anda.

Bila mereka tidak tertarik, bisa Anda berikan Brosur Produk dan Daftar Harga untuk selanjutnya Anda layani kebutuhan mereka setiap bulannya akan barang dan jasa Anda. Di situlah Anda tidak perlu punya keahlian menjual. Bahkan kalau Anda juga memakai produknya, Anda bisa dengan mudah menceritakan kelebihan produk tersebut dan menjadi pemakai produk. Bukan berarti menambah pengeluaran, tapi Anda hanya sekadar mengganti merk produk yang biasa Anda pakai di rumah. (Konsultan: Safir Senduk/Dok. NOVA)

Nah dah pada paham ngak nih??? Jadi yang namanya bisnis jaringan pemasaran atau MLM itu positif kan. Contoh bisa ditemukan di http://suksesusaha.com/

Kita akan menemukan MLM yang benar-benar professional, kita-kita yang belum mengenal seluk beluk MLM akan di training online maupun offline. So gak ada yang gak mungkin di http://suksesusaha.com/

Singgasana Hotels & Resorts pilihan akomodasi terbaik di Indonesia