Tampilkan postingan dengan label Bebas financial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bebas financial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juni 2010

Bisnis Online Ala Pipo dan Embro

Bisnis Online Ala Pipo dan Embro

Yang Anti Network Marketing ini bisa menjadi gambaran bagaimana sistem kerjanya.
Oleh sebagian besar orang masih dianggap peluang bisnis yang "aneh"

Zaman dahulu kala ada sebuah desa kecil yang indah.
Tempat itu sangat menyenangkan, sayangnya tidak punya air, jika hujan tidak turun. Untuk menuntaskan masalah itu, kepala desa menawarkan pekerjaan untuk pengiriman air harian dari mata air di gunung ke desa mereka.

Embro dan Pipo yang sedang memerlukan pekerjaan mengajukan diri untuk tugas itu, dan kepala desa memberikan kontrak itu kepada mereka. Mereka langsung membeli 2 ember baja dan mulai berlari bolak balik menyusuri jalan setapak, menuju mata air yang jaraknya 2 kilometer dari desa.

Mereka langsung menghasilkan uang, saat bekerja keras dari pagi hingga petang, mengangkut air dari mata air dengan ember mereka.

Embro merasa sangat puas dengan upah yang diperoleh dari pekerjaannya itu. Dia yakin bahwa dengan pekerjaannya, dia dapat segera membeli sapi, dan memiliki gubuk baru yang ia idam-idamkan. Bahkan untuk menambah penghasilannya, Embro membuat ember yang lebih besar agar dapat membawa air lebih banyak.

Tetapi Pipo merasa tidak nyaman dengan cara kerja membawa ember seperti itu. Suatu hari Pipo mendapat sebuah gagasan. Ia berniat membangun sebuah saluran pipa, yang akan mengalirkan air dari mata air, langsung ke tempat penampungan air di desa.

Ia sangat antusias dengan gagasannya ini. Lalu ia menceritakannya kepada Embro, dan mengajak bekerja sama.

Tetapi Embro tidak sependapat.
Bahkan ia mentertawakan gagasan Pipo, karena merasa mampu mendapatkan lebih banyak penghasilan. Pipo akhirnya memutuskan untuk mewujudkan sendiri gagasannya. Pipo mengerti bahwa tidak mudah untuk membangun saluran pipa. Dibutuhkan beberapa tahun untuk menyelesaikan dan menikmati hasilnya.

Namun tekat Pipo telah bulat. Ia tetap mengangkat ember setiap hari seperti biasa. Namun pada hari libur dan setiap waktu luang, ia bekerja keras membangun saluran pipanya.

Pada bulan-bulan pertama, hasilnya hampir tidak kelihatan. Penduduk desa mulai mencemooh Pipo, dan menyebutnya “Si Manusia Saluran Pipa”.

Sementara itu penghasilan Embro telah meningkat 2 kali lipat. Dia sudah berhasil membeli sapi, dan memiliki gubuk baru yang lebih besar. Namun tanpa terasa badan Embro mulai menjadi bungkuk karena beratnya ember yang dia bawa setiap hari. Raut mukanya mulai telihat kelelahan. Semakin hari, semakin sedikit jumlah air yang bisa dia bawa, karena tenaganya berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Dan akhirnya….. Pipo berhasil menyelesaikan saluran pipanya. Kini… tanpa perlu bersusah payah mengangkat ember, Pipo akan tetap menerima panghasilan dari air yang terus mengalir melalui saluran pipanya. Air terus mengalir tanpa henti, bahkan saat dia tidur, ataupun saat pergi berlibur.

Setelah melihat kisah Embo dan Pipo, kita sadar bahwa cerita mereka menggambarkan kehidupan kita. Cara kerja mereka melambangkan apa yang dilakukan kebanyakan orang dalam mendapatkan penghasilan.

Embro memperoleh penghasilan dengan cara menukarkan seluruh waktunya dengan uang. Sedangkan Pipo tidak menukarkan seluruh waktunya, tetapi sebagian waktunya dipakai untuk membangun saluran pipa.

Nah cara yang dilakukan Pipo merupakan cara network marketing dimana pipa-pipa yg dibuat merupakan jaringan atau aset dimana jika dilakukan dgn serius akan menghasilkan passive income (air di pipa yang dibuat oleh Pipo).

Yang dilakukan para network marketing adalah membangun pipa jaringan dengan mengajak orang2 melakukan hal yang sama, tujuannya 1 yaitu membangun aset . Ketika tenaga , waktu, usia kita sudah tidak bisa menghasilkan income utk kita maka pipa yg dibangun akan mengalirkan income.

Sekarang bagaimana dengan Anda???????
Pilih cara siapa? Embro atau Pipo
Pilihan ditangan Anda.......
Dan pilihan saya di sini

Kamis, 13 Mei 2010

Alasan Wanita Tidak Mandiri Secara Finansial

Alasan Wanita Tidak Mandiri Secara Finansial

Untuk permasalahan finansial, boleh dibilang kaum hawa tidak memiliki kompetensi yang sepadan. Hasil survey Citibank Indonesia dalam Citi Fin-Q (Financial Quotient) 2009 melibatkan responden wanita menunjukkan bahwa separuh wanita Indonesia tidak mempunyai rencana finansial. Sebagian yang telah mempunyai rencana pun belum tentu melaksanakan rencana finansial.

Mengapa wanita Indonesia belum mandiri secara finansial? Berikut 5 alasan utama:

1. Terbuai asmara
Pada umumnya, saat memasuki jenjang pernikahan, wanita mempersilakan pria untuk bertanggung jawab soal keuangan. Banyak wanita yang diajarkan, bahkan bercita-cita untuk bergantung semata pada pasangannya. Kaum pria sering dianggap lebih memiliki kemampuan untuk memperoleh penghasilan dan bertahan dalam kondisi sulit (survive) sementara wanita tidak.

Dalam beberapa kebiasaan ataupun tradisi yang dianut di Indonesia, wanita dituntut untuk menurut saja pada suami dengan imbalan proteksi dari segi keuangan. Ketergantungan ini membuat wanita tidak siap jika pasangan mereka kehilangan pekerjaan, mengalami kecelakaan, atau meninggal dunia –sehingga menyebabkan seorang istri harus mengasuh dan membesarkan anak seorang diri.

Untuk itu, agar mampu bertahan hidup di zaman sekarang, wanita semakin dituntut untuk mandiri dan saling mendukung dalam kehidupan berkeluarga.

2. Terlalu muda untuk menabung
Pada saat masih berusia muda, umumnya wanita tidak menaruh prioritas untuk menabung demi masa depan. Wanita lebih mementingkan pengeluaran untuk memperbaiki penampilan dan memperoleh hal-hal yang tidak dimilikinya saat masa kanak-kanak. Kecenderungan ini pada akhirnya menjurus pada kebiasaan belanja kompulsif. Dengan berjalannya waktu, jumlah pengeluaran semakin meningkat dan semakin sulit untuk menciptakan kebiasaan menabung.

Hal yang terbaik untuk mengajarkan nilai uang pada generasi muda adalah dengan memberikan kesempatan pada mereka untuk mulai bekerja selepas usia remaja, dan membiasakan mengelola keuangan pribadi.

3. Tergoda belanja dan terlilit utang
Iklan dan promosi untuk kecantikan, fashion, dan kebutuhan rumah tangga, semakin meningkatkan selera belanja wanita. Hal ini membuat para wanita merasa bahwa mereka memiliki kendali terhadap pengeluaran, tetapi sayangnya belanja kompulsif ini semakin menggali utang lebih dalam.

4. Terintimidasi sukses
Walaupun tingkat penghasilan wanita cenderung lebih rendah daripada pria, kaum wanita terus memperjuangkannya di dunia kerja. Namun kesuksesan di dunia kerja dapat membawa keretakan pada hubungan rumah tangga. Wanita yang memiliki penghasilan lebih tinggi dari pasangan, tangkas menangani pengeluaran, dan mengendalikan uang rumah tangga, sering dianggap agresif dan tidak feminin baik di mata laki-laki maupun sesama wanita. Untuk menjaga hubungan rumah tangga, sejumlah wanita merelakan hak finansialnya demi keutuhan keluarga.

5. Terdorong untuk membantu orang lain
Wanita selalu mengutamakan suami, anak, orangtua, anggota keluarga, bahkan orang-orang yang tidak mampu. Membantu orang lain memberikan rasa bermanfaat dan rasa senang karena telah berbuat baik pada orang lain. Terkadang wanita melupakan dirinya sendiri, sehingga pengeluaran untuk orang lain terus berjalan, dan hal ini sangat berbahaya jika ia dan keluarga terlilit utang.

Untuk melanjutkan semangat Kartini guna menciptakan kemandirian wanita Indonesia, maka seyogyanya wanita memperhatikan pengelolaan keuangan. Perlu dilakukan skala prioritas dalam mengatur pengeluaran sehari-hari, sehingga sebisa mungkin mementingkan fungsi daripada sekadar gengsi. Wanita perlu menanam kebiasaan menabung dan berinvestasi, menyiapkan dana darurat dan hidup seimbang dengan mementingkan kebutuhan pribadi dan keluarga.

Kemandirian finansial bukan sebatas tidak bergantung pada pasangan, tetapi juga memahami bahwa wanita dapat mengelola finansial secara mandiri. Raih Mandiri Finansial di DBC Network

Sumber: Citibank Indonesia